Seorang kakek yang terbiasa
menhantar koran setiap hari. Setelah ia melakukan rutinitasnya setiap hari,
yaitu bangun pagi jam 4 subuh untuk segera mandi di pemandian kampungnya, dia
bergegas untuk mandi lalu pergi ke masjid untuk melakukan sembayang subuh, ia
pergi dari masjid setelah itu ia menghampiri kebun milik tetangga yang terdapat
tanamannya dikarenakan terdapat sedikit tempat untuk ia tanami. Ia pulang
dengan membawa seikat ubi yang akan ia makan untuk sarapan sebelum bekerja. Ia
rebus ubi itu dengan harapan ubi itu akan bisa menahan laparnya hingga waktu
siang.
Berangkat si kakek tua itu
dengan sepeda tuanya untuk mengambil koran dari juragannya yang akan ia antar
kerumah-rumah pelanggannya. Ia gayuh sepeda tuanya dengan hati-hati karena
khawatir sepedanya tidak akan kuat untuk menahan berat tubuhnya. Terkadang ia
terpaksa turun untuk menuntun sepedanya disaat berada pada jalur yang menanjak.
Keringatnya bercucuran disaat ia bekerja karena terpaan teriknya panas
matahari, namun ia tetap ikhlash menjalani selama pekerjaan yang ia lakukan itu
halal.
Tiba disebuah lampu lalulintas
perempatan jalan ia berada pada baris depan lampu lalulintas tersebut. Ia
berhenti di belakang garis zebra cross. Ia melakukan perbuaatan tersebut hanya
semata-mata untuk menaati peraturan lalulintas agar pejalan kaki bisa dengan
mudah menyebrang pada jalur zebra cross tsb, lalu tiba-tiba seorang bapak bapak
menabrak sepedanya tersebut, anehnya justru bapak itu yang marah kepada kakek tersebut,
ia menganggap bahwa seharusnya kakek itu maju kedepan hingga memasuki zebra
cross tsb. Itu memang kebiasaan orang daerah tersebut yang terbiasa tidak
menaati aturan dan hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi kakek itu tetap
bersikeras mempertahankan kebenarannya, bapak itu masih tetap merasa bahwa
sebenarnya kakek itu yang salah. Bapak tersebut bahkan sempat melakukan
kekerasan pada kakek tersebut. Kakekpun mengalah pada bapak tersebut dan pulang
dengan hati yang sedih. Memang begitulah hal-hal yang lazim terjadi di negeri
ini, yang benar tetapi tak berdaya sering disalahkan sehingga kakek tersebut
merasa kasihan bahwa seharusnya kekuatan dan kekuasaan digunakan untuk
membangun negeri bukan untuk merobohkan negeri yang terjadi saat ini, yang berkuasa
malah tidak memanfaatkan kekuasaannya dengan benar akan tetapi sabaliknya
menggunakannya untuk menghancurkan yang lemah tak berdaya. Apabila seperti ini
siapa yang salah siapa yang marah.
TAMAT!!


