Pages

Selasa, 28 April 2015

Siapa yang salah Siapa yang marah.




                Seorang kakek yang terbiasa menhantar koran setiap hari. Setelah ia melakukan rutinitasnya setiap hari, yaitu bangun pagi jam 4 subuh untuk segera mandi di pemandian kampungnya, dia bergegas untuk mandi lalu pergi ke masjid untuk melakukan sembayang subuh, ia pergi dari masjid setelah itu ia menghampiri kebun milik tetangga yang terdapat tanamannya dikarenakan terdapat sedikit tempat untuk ia tanami. Ia pulang dengan membawa seikat ubi yang akan ia makan untuk sarapan sebelum bekerja. Ia rebus ubi itu dengan harapan ubi itu akan bisa menahan laparnya hingga waktu siang.
                Berangkat si kakek tua itu dengan sepeda tuanya untuk mengambil koran dari juragannya yang akan ia antar kerumah-rumah pelanggannya. Ia gayuh sepeda tuanya dengan hati-hati karena khawatir sepedanya tidak akan kuat untuk menahan berat tubuhnya. Terkadang ia terpaksa turun untuk menuntun sepedanya disaat berada pada jalur yang menanjak. Keringatnya bercucuran disaat ia bekerja karena terpaan teriknya panas matahari, namun ia tetap ikhlash menjalani selama pekerjaan yang ia lakukan itu halal.
                Tiba disebuah lampu lalulintas perempatan jalan ia berada pada baris depan lampu lalulintas tersebut. Ia berhenti di belakang garis zebra cross. Ia melakukan perbuaatan tersebut hanya semata-mata untuk menaati peraturan lalulintas agar pejalan kaki bisa dengan mudah menyebrang pada jalur zebra cross tsb, lalu tiba-tiba seorang bapak bapak menabrak sepedanya tersebut, anehnya justru bapak itu yang marah kepada kakek tersebut, ia menganggap bahwa seharusnya kakek itu maju kedepan hingga memasuki zebra cross tsb. Itu memang kebiasaan orang daerah tersebut yang terbiasa tidak menaati aturan dan hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi kakek itu tetap bersikeras mempertahankan kebenarannya, bapak itu masih tetap merasa bahwa sebenarnya kakek itu yang salah. Bapak tersebut bahkan sempat melakukan kekerasan pada kakek tersebut. Kakekpun mengalah pada bapak tersebut dan pulang dengan hati yang sedih. Memang begitulah hal-hal yang lazim terjadi di negeri ini, yang benar tetapi tak berdaya sering disalahkan sehingga kakek tersebut merasa kasihan bahwa seharusnya kekuatan dan kekuasaan digunakan untuk membangun negeri bukan untuk merobohkan negeri yang terjadi saat ini, yang berkuasa malah tidak memanfaatkan kekuasaannya dengan benar akan tetapi sabaliknya menggunakannya untuk menghancurkan yang lemah tak berdaya. Apabila seperti ini siapa yang salah siapa yang marah.

TAMAT!!

0 komentar:

Posting Komentar